Kopi dan Kemerdekaan sore itu
Indonesian

Kopi dan Kemerdekaan sore itu

by

culture
daily life
dialogue
journaly updates

Kemerdekaan ternyata benar-benar harus diupayakan secepatnya, karena akan ada kemungkinan rintangan yang datang setelahnya dan membuat tujuannya sirna, menyia-nyiakan darah serta keringat perjuangannya, hingga pada akhirnya berakhir pada angan semata.Untuk itu aku keluar dari olahraga menuju kafe lama yang dahulu menjadi tongkrongan kawan-kawan sekolah. Semuanya menjadi niat yang sederhana untuk mengetik dan menyesap kopi susu gula aren yang cukup ramah dengan ekonomi saat ini.

Mengenakan jaket hitam, sepatu lari tua, dan menggendong tas laptop yang dikencangkan kedua selempangnya untuk membuatnya terasa menyatu seperti beban tubuh yang harus dibawa untuk mencapai badan yang lebih sempurna. Melewati Bandara Angkatan Udara Pondok Cabe pada jam 5 sore terkesan biasa, karena hari ini tingkat kemacetannya hanya rata-rata. Bersyukurnya, keluar keringat dan hangat di otot-otot paha yang membuat bangga di tengah Hari Merdeka bangsa Indonesia.

Seperti pertama-tama, yang dimulai dengan merdeka, ternyata sesampainya di sana ada sambutan hangat dari seorang owner yang kukenal baik dan kupercaya bijak dengan pengalamannya. Aku memilih tempat duduk yang bersebelahan namun di meja yang berbeda, lalu keluar sapaan yang nyaman dan sederhana. Inilah yang kunilai jujur dan membuat coffeeshop ini memiliki nilai lebih dibanding lainnya.Setelah memesan kopi dan sampai di meja, pertanyaan lagi disambut oleh teman yang duduk di hadapannya.

Rupanya dia sedang menunggu anaknya yang sedang les vokal dan pidato. Ketika kopi untuk menunggu di sekolah musiknya terkemas dan disampaikan oleh barista, dia langsung beranjak dan menyisakan beberapa pertanyaan di kepalaku tentang dunia kerja baru yang sedang kujalani sekarang. Dengan halus kupindahkan laptop, kunci motor, jaket, dan tasku satu per satu untuk pindah meja, duduk berhadapan dengan seorang bapak yang lebih muda sedikit dari orang tuaku—kelahiran 60-an—untuk ngobrol dan bercerita tentang apa yang kurasakan, serta menjawab sisa pertanyaan di kepala.Aku duduk di hadapannya dengan membuka slide Notion di laptopku seraya bercerita tentang pengalamanku di sana. Kami membahas seputar dunia bisnis dan edukasi karena kami percaya pengalaman dan juga kenyamanan yang sudah terbangun sebelumnya. Aku menanyakan mengapa seorang sales harus segera memutuskan dan mengarahkan pada pembelian saat berhadapan dengan customernya. Pertanyaan itu belum hilang dari kepalaku, karena kurasa seseorang yang menggunakan trik seperti itu tidak terpuji, walaupun aku dan rekan-rekan kerjaku diharuskan mengejar target.

Ternyata itu semua ada alasannya, di mana tugas seorang sales—walaupun namanya Field Education Consultant memiliki tugas esensial, yaitu untuk meyakinkan. Meyakinkan seseorang membutuhkan penyegeraan dalam pengambilan keputusan. Ditambah lagi banyaknya kompetitor yang mungkin saja menggoyahkan pilihan, hingga berakhir pada pembatalan pembelian. Terlalu banyak pertimbangan hanya membuat jalan yang bercabang namun buntu di ujungnya.Sampai sini aku bisa mengerti betul mengapa semuanya harus dibuat lebih cepat. Namun, pertanyaan kembali muncul: ketika aku berhadapan dengan customer pascapembelian, apakah mereka akan memiliki kecenderungan tidak puas, atau yang paling buruk, merasa merugi karena telah mempercayakannya kepadaku? Apalagi, bisnis yang sedang kujalani adalah tentang edukasi, di mana akan merasa bersalah sekali jika kujadikan sepenuhnya tujuan kerjaku pada banyaknya pembelian, bukan pada kepuasan serta keberhasilan yang diperoleh melalui proses pembelajaran anak.Namun, bapak itu menjawab dengan cerita. Katanya, kepuasan dan prestasi pascapembelian adalah tanggung jawab divisi lain yang berada di kantor yang sama denganku.

Untuk bisa mengoptimalkan peranku adalah dengan keterbukaan dan masukan setelah terlibat di sana. Justru itulah fungsi kerja sama tim.Untuk kita pribadi, ini bisa menjadi pengingat: kita harus bisa terus menyesuaikan diri dan percaya pada ketidaksempurnaan. Tidak terpaku pada ketakutan, melainkan percaya dan terus mengejar apa yang sebelumnya diimpikan.Sembari membakar rokok dan menyesap kopi susu gula aren yang ramah di kantongku, aku mengingat sebuah video interview di platform YouTube. CEO di balik brand tempatku bekerja secara jujur mengatakan ia tidak pernah secara formal menjadi guru. Hanya mencoba beberapa pengalaman mengajar teman-teman kuliahnya. Ditambah lagi, platform ini adalah cara yang dia dan timnya sepakati untuk menjawab permasalahan akses pendidikan. Maka diciptakanlah pendidikan interaktif berbasis virtual dengan mengoptimalkan internet, aplikasi, hingga metode pembelajaran yang diformulasi untuk menjadi sebuah solusi.Kembali pada meja kopi, aku kembali mengajukan pertanyaan: apakah seorang CEO atau orang di tahap manajerial tinggi paham tentang apa yang dilakukan divisi lain? Apakah seorang CEO harus mengetahui cara-cara Field Education Consultant bekerja? Pertanyaan ini kuajukan sembari membakar rokok baru dan sesekali melirik jam pada laptopku karena waktu magrib hampir berganti.Ia menjawab santai dengan suara beratnya, kembali bertanya, “Emangnya kamu tahu kerjaan dia?” Aku hanya terdiam dengan sedikit mengangguk biar terlihat mengerti. Ia menambahkan ceritanya dahulu saat bekerja.

Bosnya pernah memberikan rahasia: ia tidak akan mengangkat sesama sales untuk mengepalai tim sales. Sederhananya, pekerjaan dengan target seperti sales sering kali dipenuhi dengan cara-cara kurang sehat karena dirasa target harus dikejar secara kompetitif. Bisa jadi caranya buruk namun membuahkan pembelian, atau caranya baik namun merugikan perusahaan.Dia menambahkan, “Kalo dia ngerti keuangan, ngapain dia hire orang keuangan? Dia aja yang kerjain semuanya, ahahaha.” Aku ikut tertawa dan sepakat kalau memang benar adanya: tidak harus dia mengetahui secara mendalam tentang caraku bekerja. Adapun yang dia ketahui cukup jobdesk-ku secara deskriptif dan teoritis, baik untuk efisiensi keuangan perusahaannya. Yang lebih penting adalah kualitas dari produk yang sama-sama kami pasarkan.Pertanyaan ini sebenarnya hanya membutuhkan validasi dari yang dinilai lebih berpengalaman.

Aku mahasiswa ekonomi yang sudah menyelesaikan hampir keseluruhan tugas kuliahku. Ini sedikit bertentangan dengan nilai yang kuterapkan sebelumnya pada organisasi kemahasiswaan. Di sana, setiap orang yang ingin mendapatkan peran harus sudah pernah menjalani peran tersebut, dengan alasan kuat agar bisa menjalaninya dengan baik, sekaligus mengajarkannya kepada anggota-anggota baru yang mayoritas belum berpengalaman.Namun di sela-sela lawakan yang penuh sanggahan logika itu, tiba-tiba sang owner coffeeshop memberikan hipotesis spontan, “Karena waktu itu lu mau nyari cepet kan?” sambil tertawa bijak. Aku mengiyakan secara perlahan, meski sedikit tidak menerima, merasa bersalah. Namun, kepalaku mengatakan memang waktu itu singkat dan harus dipercepat karena secara periode dan jumlah program kerja memang harus dipersingkat dengan pengoptimalan sumber daya manusia yang ada. Sederhananya: ahli pada peran tim penyelenggaraan program kerja tersebut.Aku pun mengiyakan sepenuh hati. Di pekerjaanku yang baru ini, banyak sekali momen ketika aku bergerak, baru orang-orang di sekitarku terasa seperti guru yang mengayomi, sering mengingatkan agar tidak salah dalam bergerak.

Ini menjadi pengalaman yang membawaku pada pengetahuan baru yang menyenangkan: kita bukan Tuhan ketika berada pada posisi tertinggi yang mengetahui segalanya. Kita bukan yang paling baik ketika berada pada posisi tersulit. Kita harus terus mendengar agar bisa terus-menerus menjalani segala peran, terlebih lagi untuk naik pada tingkatan jabatan selanjutnya.Tanpa aba-aba, kami berdua melihat jam secara bersamaan dia dari handphone, aku dari laptop dan memutuskan menuju musala untuk mengejar magrib yang hampir berganti shift dengan waktu salat setelahnya.Terakhir, ingin kuceritakan bahwa pengalamanku dari bekerja dan nongkrong ini bukan keseluruhan dari perubahan besar. Ini hanya segelintir dari pembelajaran yang akan kujalani. Aku, dan kuharap kita semua, bisa terus menerus mendengar dan beradaptasi dengan hal-hal baru di sekitar kita. Ditambah lagi, teknologi dan informasi berkembang begitu pesat sekarang. Maka, dengan membiasakan bersosialisasi dan mendengarkan, kita akan terbawa ke kemerdekaan.Merdeka yang segera karena tidak membuat pertanyaan itu larut dan menjadi kekeliruan di lain hari. Dan merdeka yang bahagia karena sedari awal diniatkan dengan kebermanfaatan untuk sesama.

0